Tentang Mollo

Belajar Keselamatan dari Orang Mollo

Oleh Siti Maemunah
Ada gunung enam batu yang sudah dan sedang di tambang. Lima diantaranya berhasil digagalkan di tengah jalan.

Kawasan Molo membentang luas dari kaki Gunung Mutis – gunung tertinggi di Pulau Timor bagian barat, berbatasan dengan sungai Mina dan Gunung Timau. Ia masuk Kabupaten Timor Tengah Selatan, berbatasan dengan negara baru Timor Leste.

Molo adalah kawasan kaya sumber daya alamnya di Pulau Timor, Sekitar 90 persen orang Molo adalah petani peternak. Ada yang petani sawah, peladang dan berkebun. Letak kebun biasanya jauh dari rumah tinggal. Bertani dilakukan di tanah suku dengan kepemilikan keluarga dengan luas lahan berkisar 0,1 hingga 0,5 ha. Lahan-lahan kebun dikerjakan secara subsisten oleh seluruh anggota keluarga. Hasilnya untuk kebutuhan pangan setahun, dan disisihkan untuk bibit di musim tanam berikutnya. Sebagian besar lahan pertanian mereka bergantung pada air hujan.

Orang Mollo memandang alam bagai tubuh manusia adalah kunci yang mereka percaya sebagai syarat keselamatan. Batu dilambangkan sebagai tulang, tanah sebagai daging, sedangkan air sebagai darah, dan hutan sebagai kulit, paru-paru dan rambut.  Bila tidak ada batu berarti kehilangan tulang, jika ada batu berarti ada air.

Sebagai tulang tanah, batu berfungsi merekatkan dan menguatkan tanah sehingga tak longsor, baik oleh hujan dan angin. Orang Molo percaya batu memiliki kemampuan menyerap, menyimpan dan menampung air. Tak heran jika banyak mata air yang keluar dari bawah batu. Ia juga menjaga kesuburan tanah, karena mampu menampung air sehingga bisa menjaga kelembaban tanah sekitarnya. Sementara hutan diatasnya menyumbang seresah dan humus yang menyuburkan tanah dibawahnya.

Orang Molo menyebut batu sebagai Fautkanaf atau Batunama. Sebab seluruh nama marga orang Timor berasal dari batu. Batu adalah latar sejarah lahirnya delapan marga utama di Pulau Timor. Dari delapan marga inilah yang kemudian melahirkan keluarga-keluarga suku asli yang menghuni Pulau Timor, yaitu Seko, Ba’un, Fui, Sumbanu, lasa, Nani, Toto dan Tanisip.

Nama-nama itu lahir dari kegiatan keseharian mereka disekitar gunung batu yang paling besar, yaitu Naususu dan Anjaf. Bisa dibayangkan, jika Naususu dan Anjaf  digali habis – berati sejarah orang Molo hilang, seluruh marga orang Molo terhapus.

Batu merupakan ritus adat yang menghubungkan orang Mollo dengan nenek moyangnya. Mereka percaya Fatu Naususu adalah batu yang mengawali dan menjadi pusat dari batu lainnya. Naususu, berarti menggendong untuk disusui. Batu ini seolah ibu yang menyusui batu lainnya. Naususu bagaikan sumber air utama bagi batu-batu lainnya. 
Naususu mereka diibaratkan sebagai akar, sementara gunung batu yang mengelilinginya sebagai batang pohon dan cabang. “Akar menopang batang pohon dan cabangnya. Jika akar dicabut, pohon akan roboh. Jika batag dirusak, pohon akan tenggelam, ” ujar Thomas Ola, menjelaskan hubungan antar batu.

buat pemerintah, batu itu tak lebih dari gunung batu biasa yang menyimpan marmer kelas tinggi. Menurut Arid Oematan, salah seorang pemuda di Tune. Ada 19 titik tambang Marmer di kawasan Molo. Cadangan atau deposit marmer di pulau Timor dan Flores diperkirakan sekitar 3,5 triliun meter kubik.

Pemerintah dan perusahaan tambang berkeinginan menggali gunung batu, dipotong menjadi petak-petak kubus raksasa berwarna putih, dan dijual ke Jawa bahkan manca negara. Di sana, kubus raksasa itu berubah menjadi potongan tegel lantai gedung dan rumah mewah hingga tatakan kompor.

Tanpa diketahui warganya, semua batu itu telah memiliki Kuasa Pertambangan, yang dikeluarkan Bupati dan Gubernur. Saat ini, ada gunung 6 batu yang sudah dan sedang di tambang. Lima diantaranya berhasil digagalkan di tengah jalan.

Batu-batu memiliki nama, mulai yang terbesar dan tertinggi, terlihat gagah dikejauhan bernama Fatu Naususu  dan Anjaf di desa Fatukoto, Fatu Peke di desa Tune, Fatu  Pe’ di desa Fatumnutu, Fatu Nua Mollo di desa Ajobaki, Fatu Naitapan di desa Tunua,  Fatu Sanam – fatu Naenman di Bonle’u, Fautlik dan Faut Ob  di desa Fatumnasi. Dan pertambangan marmer mengancam batu-batu tersebut.

Di Desa Leloboko dan Fatukoto, warga sering mengeluhkan perubahan cuaca sejak batu Naususu dan Anjaf terganggu. Bagian atas gunung batu ini tumbuh hutan, sementara bagian bawahnya adalah sumber air. Warga mengetahui dan percaya benar terhadap peranan batu dalam menyimpan air. Disamping sejarah adat, air menjadi  alasan utama  warga mempertahankan gunung batu.

Dimuat majalah FORUM Keadilan, 15 Juli 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s