PENGGALANGAN DUKUNGAN DONASI PUBLIK UNTUK MELESTARIKAN RUMAH ADAT LOPO

(Molo, Amanatun, Amanuban)

Masyarakat adat Molo menyandarkan kehidupannya dengan bersawah, ladang, kebun, mengelola hasil hutan dan berternak. Beberapa kebiasaan lama seperti berladang dengan cara gilir balik masih diterapkan. Padang-padang savana mereka manfaatkan untuk memelihara ternaknya. Satu hal yang terpenting adalah filosofis masyarakat adat Molo terhadap Bumi. Bumi bagi mereka adalah Tubuh. Batu adalah tulangya, tanah adalah daging, hutan adalah kulit dan rambut, sedangkan air adalah darah.

Hal itu yang membangun kesadaran masyarakat adat Molo menjaga wilayahnya dari gangguan yang mengakibatkan kerusakan karena jika salah satu anggota tubuhnya terganggu atau sakit maka bumi akan sakit dan tak bisa memberi layanan dengan baik sebagaimana fungsinya. Inilah yang membuat mereka begitu gigih melawan ekspansi industri pertambangan yang menambang batu marmer. Upaya yang mereka lakukan juga tidak semata-mata hanya untuk warga di TTS, tapi secara keseluruhan bagi warga di Pulau Timor terutama untuk pasokan air.

Kegigihan mereka membuahkan hasil mengusir perusahaan-perusahaan yang akan menambang marmer. Hingga di penghujung tahun 2010, hanya tinggal satu perusahaan dari 16 lokasi tambang marmer yang belum angkat kaki namun tidak beroperasi penuh.

Kini, masyarakat adat Molo tidak hanya menghadapi perusahaan tambang Marmer. Rencananya ENI West Timor untuk mengeksploitasi minyak. Tantangan bagi warga Molo semakin besar mempertahankan wilayahnya.

Inisiatif dan kearifan lokal terbukti menjadi alat perlawanan yang ampuh melawan ekspansi industri ekstraktif. Inilah kemudian masyarakat adat Molo melalui Yayasan Oat atau Organisasi Kelompok Kerja Atemamus masyarakat adat Molo yang dibentuk atas permintaan para tetua adat pada awal 2000, melakukan upaya menyatukan kekuatan melalui festival Lopo. Lopo adalah symbol rumah adat Molo. Oleh karenanya pembangunan Lopo semakin terasa penting untuk menyatukan perlawanan masyarakat adat di Kabupaten TTS dan So’E. Semua ini tak lepas juga dari perjuangan seorang kartini Molo yaitu Aleta Ba’un

Untuk itu JATAM sebagai bagian masyarakat sipil mendukung upaya masyarakat adat dalam rencana pembangunan Lopo. Oleh karenanya JATAM meluncurkan sebuah kegiatan dengan tema “DUKUNGAN DONASI PUBLIK UNTUK MELESTARIKAN RUMAH ADAT LOPO ” dan mengajak publik untuk mendukung masyarakat Molo dalam hal pembangunan dan melestarikan rumah adat Lopo.

Donasi dapat langsung datang ke Sekretariat Rumah Perlawanan JATAM, Kami pun dapat menjemput ke tempat-tempat anda. Juga bisa langsung dikirimkan ke Rekening Bank CIMB Niaga Mampang Jakarta – No. 9030101046008 atas nama Perkumpulan Jaringan Advokasi Tambang

Tentang jejakmollo

Orang Mollo memandang alam bagai tubuh manusia adalah kunci yang mereka percaya sebagai syarat keselamatan. Batu dilambangkan sebagai tulang, tanah sebagai daging, sedangkan air sebagai darah, dan hutan sebagai kulit, paru-paru dan rambut. Bila tidak ada batu berarti kehilangan tulang, jika ada batu berarti ada air.
Pos ini dipublikasikan di Dukungan Publik. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s