FESTIVAL NINGKAM HAUMENI-2-

KEDAULATAN PANGAN, KESELAMATAN RAKYAT

Perubahan iklim global memberikan dampak yang meluas, tidak terkecuali wilayah Timor Tengah Selatan (TTS). Dalam dua tahun terakhir di wilayah ini mengalami gagal panen hingga dikhawatirkan terjadi krisis pangan luar biasa. Hal ini tentu akan mengancam kesehatan keluarga khususnya balita dan anak-anak sekolah. Kondisi makin diperparah oleh adanya kebijakan pembangunan yang eksploitatif dan pilihan ekonomi yang merusak. Diantaranya, maraknya ijin pertambangan mangan, emas, MIGAS dan juga industri kehutanan lainnya.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Festival Ningkam | Tinggalkan komentar

Mengusir Perusahaan Tambang dari Bumi Manggarai

“Perjuangan melawan tambang terlambat satu menit sama dengan telat lima tahun.”
(Aleta Baun, NTT)

Para pendatang menduduki kampung, dan tuan kampung pun harus pergi.” Nampaknya sindiran sinis para aktivis penolak perusahaan tambang di Manggarai, langsung menusuk ke ulu hati masyarakat lingkar tambang. Masyarakat pun tergugah, bangkit, dan bergerak melakukan aksi penolakan PT Sumber Jaya Asia (SJA), yang terbukti mengeksploitasi sumber-sumber daya di Kabupaten Manggarai. Serangkaian demonstrasi massa digelar, gabungan masyarakat lingkar tambang, mahasiswa, aktivis NGO, lembaga-lembaga keagamaan beserta masing-masing tokoh agama. Gugatan class action masyarakat bermuara pada dugaan kolusi antara para pengusaha dengan anggota DPRD Manggarai untuk memuluskan praktik penambangan di sana. Puncak aksi berlangsung pada akhir tahun 2009 di depan gedung KPK, dan berhasil mendorong Kapolri menginstruksikan Kapolda Manggarai untuk menyegel perusahaan yang berpusat di Shanghai itu.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Tinggalkan komentar

PENGGALANGAN DUKUNGAN DONASI PUBLIK UNTUK MELESTARIKAN RUMAH ADAT LOPO

(Molo, Amanatun, Amanuban)

Masyarakat adat Molo menyandarkan kehidupannya dengan bersawah, ladang, kebun, mengelola hasil hutan dan berternak. Beberapa kebiasaan lama seperti berladang dengan cara gilir balik masih diterapkan. Padang-padang savana mereka manfaatkan untuk memelihara ternaknya. Satu hal yang terpenting adalah filosofis masyarakat adat Molo terhadap Bumi. Bumi bagi mereka adalah Tubuh. Batu adalah tulangya, tanah adalah daging, hutan adalah kulit dan rambut, sedangkan air adalah darah.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Dukungan Publik | Tinggalkan komentar